wisata destinasi

Warung Haji Ridwan Berdiri Sejak 1925

22
×

Warung Haji Ridwan Berdiri Sejak 1925

Share this article

Warung Haji Ridwan: Legenda Kuliner yang Bertahan Selama 97 Tahun di Pasar Besar Malang

Di tengah keramaian Pasar Besar Malang (PBM), terdapat sebuah warung yang telah menjadi bagian dari sejarah kota ini. Warung Haji Ridwan, yang berdiri sejak tahun 1919, telah menjadi ikon kuliner Jawa Timuran yang masih bertahan hingga saat ini. Meski usianya sudah lebih dari satu abad, warung ini tetap menarik perhatian pengunjung yang ingin merasakan cita rasa autentik dan nostalgia.

Sejarah Awal yang Penuh Perjuangan

Pedagang pasar di Pasar Besar Malang

Warung Haji Ridwan awalnya tidak memiliki bentuk permanen seperti sekarang. Pada tahun 1919, Haji Ridwan dan keluarganya hanya berjualan dengan menggunakan pikulan. Mereka menjual makanan sederhana kepada para pedagang pasar dan penyuplai kebutuhan pasar besar. Karena harga yang terjangkau dan rasanya yang lezat, warung ini cepat dikenal dan ramai dikunjungi.

Menu yang Tak Pernah Berubah

Nasi rawon di Warung Haji Ridwan

Salah satu rahasia kesuksesan Warung Haji Ridwan adalah konsistensi dalam resep masakannya. Bahkan setelah mengalami beberapa perubahan fisik, termasuk penutupan sementara akibat kebakaran PBM pada tahun 2000-an, warung ini tetap mempertahankan citra rasa asli. Dari nasi campur hingga sate komoh, semua menu disajikan dengan bumbu yang khas dan bahan-bahan segar.

Menu Favorit dan Keunikan Rasa

Pintu masuk Pasar Besar Malang

Sate komoh menjadi salah satu menu paling populer di warung ini. Terbuat dari daging sapi yang dipotong kotak-kotak dan dibumbui rempah-rempah, sate ini memiliki rasa manis dan sedikit pedas. Bagian atas dagingnya sedikit hitam karena dibakar, memberikan aroma khas yang menggugah selera.

Lokasi yang Mudah Ditemukan

Warung Haji Ridwan berada di dekat pintu masuk Pasar Besar Malang. Untuk mencapainya, cukup berjalan sekitar 15 meter dari gerbang utama. Jika bingung, tanyakan saja kepada para pedagang atau tukang becak yang biasa mangkal di sekitar area tersebut. Namun, disarankan untuk menghindari jam makan siang karena antrean bisa sangat panjang.

Harga yang Masih Terjangkau

Daftar menu di Warung Haji Ridwan

Meskipun telah bertahan selama lebih dari satu abad, harga makanan di Warung Haji Ridwan tetap terjangkau. Rata-rata, satu porsi hidangan berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000. Harga ini jauh lebih murah dibandingkan warung-warung lain di sekitar PBM, namun tetap menjaga kualitas rasa yang konsisten.

Tips untuk Pengunjung Pertama Kali

Jika Anda baru pertama kali berkunjung ke Warung Haji Ridwan, cobalah beberapa menu yang paling diminati. Nasi lodeh, krengsengan, dan nasi campur sering menjadi pilihan utama. Selain itu, jangan ragu untuk memesan lauk tanpa nasi jika Anda hanya ingin mencoba satu jenis hidangan.

FAQ

Apa saja menu favorit di Warung Haji Ridwan?

Menu favorit meliputi nasi rawon, sate komoh, nasi lodeh, dan krengsengan. Semua menu ini memiliki cita rasa khas Jawa Timur.

Bagaimana cara mencari lokasi Warung Haji Ridwan?

Warung ini berada di dekat pintu masuk Pasar Besar Malang. Jika bingung, tanyakan kepada para pedagang atau tukang becak di sekitar area.

Apakah harga makanan di sini terjangkau?

Ya, harga makanan di Warung Haji Ridwan relatif murah, berkisar antara Rp 15.000 hingga Rp 20.000 per porsi.

Apakah warung ini masih buka meski sempat tutup?

Ya, meski sempat tutup akibat kebakaran, warung ini tetap beroperasi dan menjaga kualitas rasa serta tradisi.

Apakah ada hal unik yang bisa dilakukan di sini?

Selain mencoba makanan, pengunjung juga bisa berfoto di depan warung sebagai kenangan. Banyak orang datang untuk bernostalgia dengan suasana lama.

Penutup

Warung Haji Ridwan tidak hanya sekadar tempat makan, tetapi juga simbol keberlanjutan dan kekayaan budaya Malang. Dengan rasa yang konsisten, harga yang terjangkau, dan lokasi yang strategis, warung ini tetap menjadi destinasi utama bagi warga dan wisatawan. Jika Anda pernah berkunjung ke Malang, jangan lewatkan kesempatan untuk mencicipi legenda kuliner yang telah bertahan selama lebih dari satu abad.

(Read also: Mengenal Tradisi Grebeg, Peringatan Hari Besar Islam di Yogyakarta)

(Read also: Berburu Onde-Onde Wijen Tangkil)

(Read also: Petualangan Menelusuri Jejak Tentara Jepang di Sabang)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *