Masyarakat Jawa Kuno dan Ritual Ruwatan Murwakala di Candi Kidal
Di tengah keindahan arsitektur candi yang megah, Candi Kidal di Kabupaten Malang memiliki cerita unik yang masih dilestarikan hingga kini. Selain sebagai situs sejarah, candi ini juga menjadi tempat pelaksanaan ritual kuno bernama Ruwatan Murwakala. Ritual ini memiliki makna mendalam dalam tradisi Jawa kuno, yang bertujuan untuk membersihkan jiwa manusia dari sifat buruk.
Awal Ritual Ruwatan Murwakala

Ruwatan Murwakala merupakan salah satu tradisi luhur yang telah berlangsung selama ratusan tahun. Ritual ini dimulai dengan tarian pembuka yang disebut Tarian Garudeya. Tarian ini tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga memiliki makna spiritual. Tujuannya adalah untuk memohon keselamatan, kesejahteraan, dan harmoni bagi masyarakat sekitar serta seluruh Indonesia.
Tarian Garudeya terinspirasi dari legenda Garuda, tokoh mitos dalam mitologi Hindu. Dalam legenda tersebut, Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan. Hal ini melambangkan kekuatan dan semangat untuk melepaskan diri dari keterikatan negatif.
Amanat Raja Anusapati

Relief Garudeya yang terdapat di Candi Kidal memiliki makna penting. Relief ini merupakan amanat dari Raja Anusapati, yang merupakan raja kedua Kerajaan Singasari. Isi amanat tersebut adalah harapan untuk menyucikan pikiran dan jiwa, khususnya untuk sang ibu, Ken Dedes.
Ritual Ruwatan Murwakala sendiri dilakukan dengan cara memotong rambut atau melarung sesaji. Proses ini melambangkan penghapusan sifat buruk dan pengembalian jiwa kepada keadaan yang bersih dan suci.
Peran Nayaka Praja dalam Ritual

Saat ini, pelaksanaan Ruwatan Murwakala dilakukan oleh Nayaka Praja, yaitu pimpinan yang sedang menjabat. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari ritual, tetapi juga menjadi simbol keharmonisan antara masyarakat dan alam.
Pengikut ritual ini biasanya berasal dari kalangan masyarakat setempat dan para peneliti budaya. Mereka percaya bahwa ritual ini dapat membawa manfaat spiritual dan menjaga keseimbangan hidup.
Keunikan Budaya Jawa yang Terus Bertahan
Candi Kidal bukan hanya tempat wisata sejarah, tetapi juga menjadi pusat pelestarian budaya Jawa. Setiap tahun, banyak orang yang datang untuk menyaksikan dan ikut serta dalam ritual ini. Tradisi seperti Ruwatan Murwakala menunjukkan betapa kuatnya akar budaya Jawa dalam kehidupan masyarakat.
Selain itu, Candi Kidal juga menjadi daya tarik bagi para pecinta sejarah dan budaya. Banyak pengunjung yang mengagumi keindahan bangunan candi dan keunikan tradisinya. Di sekitar candi, terdapat beberapa objek wisata lain yang juga menawarkan pengalaman serupa.
Tips untuk Berkunjung ke Candi Kidal

Jika Anda ingin berkunjung ke Candi Kidal, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pertama, pastikan untuk mematuhi aturan dan norma setempat. Kedua, jangan lupa membawa perlengkapan pribadi seperti air minum dan perlengkapan kebersihan. Ketiga, jika ingin ikut serta dalam ritual, pastikan untuk memperoleh izin dari pihak berwenang.
Pertanyaan Umum (FAQ)
Apa tujuan dari ritual Ruwatan Murwakala?
Tujuan utama dari ritual ini adalah untuk membersihkan jiwa manusia dari sifat buruk dan mengembalikan keadaan yang bersih dan suci.
Bagaimana prosesi ritual Ruwatan Murwakala dilakukan?
Prosesi ritual biasanya dimulai dengan tarian Garudeya, diikuti oleh pemotongan rambut atau melarung sesaji.
Siapa yang melakukan ritual Ruwatan Murwakala saat ini?
Ritual ini dilakukan oleh Nayaka Praja, yaitu pimpinan yang sedang menjabat.
Apakah semua masyarakat bisa ikut dalam ritual ini?
Ya, masyarakat umum bisa ikut serta dalam ritual ini asalkan memperoleh izin dari pihak berwenang.
Bagaimana cara mengakses Candi Kidal?
Candi Kidal terletak di Desa Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Lokasinya sekitar 11 kilometer dari Kota Malang.
Penutup
Candi Kidal tidak hanya menjadi tempat sejarah, tetapi juga menjadi simbol kekayaan budaya Jawa yang masih bertahan hingga kini. Ritual Ruwatan Murwakala adalah salah satu contoh dari tradisi yang masih dilestarikan dan memberikan makna mendalam bagi masyarakat. Dengan pelestarian budaya seperti ini, kita bisa menjaga warisan leluhur dan merawat identitas kebangsaan.






